Sabtu, 07 Juli 2012

TRANSMISI SYNCHRONOUS DAN ASYNCHRONOUS

TRANSMISI SYNCHRONOUS DAN ASYNCHRONOUS

1. Transmisi Synchronous
Merupakan suatu pengiriman data yang dikirim dengan kecepatan tinggi dan data yang dikirim pada block, dimana setiap block data akan dicek ulang oleh : Block Check Character (BCC). Transmisi ini digunakan untuk transmisi data dengan kecepatan yang tinggi. Data yang dikirimkan berupa satu blok data. Sinkroniasi terjadi dengan cara mengirimkan pola data tertentu antara pengirim dan penerima. Pola data ini disebut dengan karakter sinkronisasi (synchronization character).Dengan transmisi synchronous , suatu blok bit di transmisikan dalam suatu deretan yang cukup mantap tanpa kode start dan stop. Panjang blok tersebut bisa terdiri dari bit-bit yang begitu banyak. Untuk mencegah ketidaksesuaian waktu diantara transmitter dan receiver detaknya dengan cara apapun harus dibuat sinkron. Salah satu kemungkinannya adalah dengan menyediakan sebuah jalur detak terpisah diantara transmitter dan receiver. Salah satu sisi ( transmitter maupun receiver) mengatur jalur secara teratur dengan satu pulsa pendek per bit waktu. Sisi yang lain menggunakan pulsa regular ini sebagai detak. Teknik ini akan bekerja dengan baik untuk jarak pendek, namun untuk jarak yang limayan panjang pulsa detak akan menjadi sasaran gangguan-gangguan yang sama seperti yang terjadi pada sinyal data, ditambah lagi dengan adanya kesalahan dalam hal waktu. Alternative lain, dengan menyimpan informasi pewaktuan pada sinyal data. Untuk sinyal-sinyal digital, hal ini bisa diperoleh dengan pengkodean Manchester atau Manchester diferensial. Sedangkan untuk sinyal-sinyal analog, terdapat sejumlah teknik yang dapat dipergunakan, misalnya frekuensi pembawa itu juga dapat dipergunakan untuk mensinkronkan receiver didasarkan atas fase frekuensi pembawa.
Dengan transmisi sinkron, terdapat level sinkronisasi lain yang dipergunakan yang memungkinkan bagi receiver menentukan awal dan akhir suatu blok data. Untuk mencapai hal ini, setiap blok diawali dengan pola bit preamble dan biasanya diakhiri dengan pola bit postamble. Selain itu, bit-bit yang lain ditambahkan ke blok data yang membawa informasi control yang dipergunakan dalam prosedur control data link. Data plus preamble, postamble, dan informasi control disebut frame. Bentuk frame yang tepat tergantung pada prosedur control data link apa yang berlaku. Biasanya, frame diawali dengan suatu preamble yang disebut flag, yang panjangnya delapan bit. Flag yang sama dipergunakan sebagai postamble. Receiver mencari pola flag untuk menandai permulaan frame. Ini diikuti dengan beberapa bit-bit control, kemudian beberapa bit-bit data (panjangnya variable untuk sebagian besar protocol), bit-bit control lagi, dan terakhir flag di ulang lagi. Untuk blok data yang cukup besar, transmisi sinkron jauh lebih efisien dibandingkan transmisi asinkron. Transmisi asinkron membutuhkan tambahan 20% atau bahkan lebih informasi control, preamble, postamble dalam transmisi sinkron biasanya kurang dari 100 bit. Berikut ini gambar dari format frame sinkron.

Di dalam rekomendasi ITU-T G.707, Synchronous Digital Hierarchy (SDH) merupakan suatu teknologi yang mempunyai struktur transport secara hierarki dan didesain untuk mengangkut informasi (payload) yang disesuaikan dengan tepat dalam sebuah jaringan transmisi. Transmisi sinkron digital merupakan proses multiplex sinyal tributari secara multiplexing sinkron yang rekontruksi sinyalnya melalui elemen jaringan SDH yaitu : Terminal Multiplexer, Add/Drop Multiplexer (ADM) atau Digital Cross-Connect (DXC) dan akhirnya ditransmisikan melalui jaringan optik.
Jaringan transmisi sinkron merupakan usaha untuk menyatukan berbagai hirarki digital yang telah ada dan membentuk hirarki digital baru yang mendukung berbagai jenis pelayanan sinyal kecepatan tinggi dan rendah sehingga jaringan bisa dikembangkan dari jaringan komunikasi plesiochronous atau Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH) yang telah dipakai selama ini sebagai dasarnya, selanjutnya memultiplex keberadaan tributari PDH dalam metoda sinkron. Tawaran-tawaran spesifik yang diciptakan oleh SDH diantaranya termasuk :
1. Self-Healing ring (SHR) yang akan bekerja secara otomatis jika jalur yang bekerja mengalami gangguan
dengan cara mengalihkan informasi yang ada pada jalur trafik ke jalur yang lain.
2. Fleksibilitas yang demikian tinggi dalam hal konfigurasi - konfigurasi kanal pada simpul - simpul jaringan
dan meningkatkan kemampuan - kemampuan manajemen jaringan baik untuk payload trafic-nya maupun
elemen - elemen jaringan.
3. Service on demand yakni provisi yang cepat end-to-end customer services on demand.
4. Akses yang flexibel dalam arti manajemen yang flexibel dari berbagai lebar pita tetap ke tempat – tempat pelanggan.
Sebelum munculnya SDH, hirarki pemultiplekan sinyal digital untuk Amerika / Kanada, Jepang dan Eropa berbeda - beda seperti dinyatakan pada tabel di bawah ini

Dengan SDH akan mendukung jaringan dari berbagai vendor secara uniform dengan menajemen jaringan berdasarkan antarmuka node jaringan (Network Node Interface/NNI) yang distandarkan oleh ITU-T dimana level hirarki SDH seperti pada tabel di bawah ini


Struktur multiplexing SDH mengijinkan sinyal - sinyal plesiochronous dari berbagai vendor dimultiplex secara langsung dan sederhana ke sinyal STM-1, untuk ke orde bit rate yang lebih tinggi akan dimultiplexing secara byte interleaved misalnya dari sinyal STM-1 ke STM-4 seterusnya ke STM-16. Keuntungan penggunaan struktur multiplexing sinkron adalah :
a.Teknik multiplexing / demultiplexing sederhana
b.Akses langsung untuk tributary - tributari kecepatan rendah
c.Peningkatan kemampuan operasi dan pemeliharaan
d. Kemudahan transisi ke bit rate yang lebih tinggi.
Karena Synchronous Digital Hierarchy (SDH) merupakan hirarki pemultiplekan yang berbasis pada transmisi sinkron yang telah ditetapkan oleh ITU-T sehingga menghasilkan beberapa keunggulan, yaitu :
1. Kode saluran (Linecode) yang dipakai merupakan standar untuk transmisi sinyal optik, sehingga menjamin
kompatibilitas perangkat dari berbagai merek.
2. Strukturnya modular. Dari bitrate dasar (155,52Mbps) dapat disusun tingkatan multipleks yang lebih tinggi
dengan bitrate kelipatan bilangan bulat dari bitrate sinyal STM-1. Struktur frame untuk STM-N ( N=1,4,16,64
identik, tidak didefinisikan sebagai frame baru seperti pada PDH.
3. Pengaksesan kanal tertentu dari sinyal multipleks secara langsung dengan bantuan pointer. Hal ini
merupakan keuntungan pada aplikasi sistem Digital Cross Connector dan teknik percabangan ADM (Add
Drop Multiplexer)
4. Adanya byte - byte overhead untuk keperluan supervisi, kontrol, dan manajemen.
5. Dimungkinkan transmisi sinyal PDH melalui teknik SDH.
Komponen Pada SDH
STM-1 (Synchronous Transport Module) adalah modul transport sinkron level-1. Sebuah frame tunggal STM-1 dinyatakan dengan terdiri dari sembilan baris dan 270 kolom. Frame ini dibentuk dari 2430 byte, setiap byte terdiri dari 8 bit. Frame STM-1 berisi dua bagian, bagian SOH (Section Overhead) dan bagian VC (Virtual Container) yang merupakan payloadnya atau informasi intinya. Frame SDH terlihat pada gambar di bawah ini




Arsitektur umum jaringan SDH
Level yang paling tinggi, jaringan transport adalah n x STM-1 (n x 155 Mbps) yang dihubungkan secara bersilangan oleh peralatan DXC 4/4 (DXC). DXC ini berfungsi untuk menyediakan tempat bagi interkoneksi hubungan hubungan jalur kawatnya (hardwire) serta pemeliharaan rutin maupun troubleshooting-nya.

  Jaringan akses SDH umumnya tersusun dalam ring - ring STM-1. ADM 4/1 (Add and Drop Multiplexer) untuk mendemultiplek aliran STM-1 ke aliran E1 atau memultiplek aliran E1 ke dalam aliran STM-1. Mengacu pada gambar 2.3 jaringan SDH dibagi menjadi 2 lapisan yaitu lapisan transport dan lapisan akses. Lapisan transport terdiri dari peralatan-peralatan DXC yang berlokasi di sentral -sentral telepon serta koneksi - koneksi kapasitas tinggi diantara sentral - sentral telepon. Sedang lapisan akses terdiri dari peralatan ADM yang berlokasi di sentral - sentral telepon / kabinet - kabinet di jalanan yang merupakan penyedia lebar pita saluran bagi para user.

2. Transmisi Asynchronous
Transmisi asinkron digunakan apabila pengiriman data dilakukan satu karakter setiap kali pengiriman. Transmisinya dilakukan dengan cara memberikan bit awal (start bit)pada setiap awal pengiriman karakter dan diakhiri dengan bit akhir (stop bit). Untuk mencegah problem timming dengan tidak mengirim aliran bit panjang yang tidak putus-putusnya. Bit-bit di kirim per karakter pada setiap waktu yang mana masing-masing karakter mempunyai panjang 5-8 bit. Timing atau sinkronisasi harus dipertahankan antara tiap karakter , receiver mempunyai kesempatan untuk mensinkronkan awal dari tiap karakter baru.
Berikut ini digambarkan model dari transmisi asinkron.


Keterangan gambar di atas:
 Idle (biasanya =’1’) jika tidak ada karakter yang ditransmisikan dan start bit = “0”, sedangkan jumlah karakter yang ditransmisikan antara 5-8 bit.
 Bit paritas digunakan untuk mendeteksi error, diatur oleh pengirim agar jumlah total ‘1’
termasuk bit paritas adalah genap, dan stop bit = ‘1’, yang panjangnya 1; 1,5; 2 kali durasi bit
pada umumnya
 Komunikasi asinkron adalah sederhana dan murah, tetapi memerlukan overhead dari 2 ke 3 bit per karakter, prosentasi overhead dapat dikurangi dengan mengirimkan blok-blok bit besar antara bit start dan bit stop
 Contoh : akan dikirimkan data ASCII ABC dengan A = 41H, B = 42H dan C = 43H tanpa
paritas, maka :
A = 0100 00012 invert kode ASCII 7 bit
100 00012
B = 0100 00102 invert kode ASCII 7 bit
010 00012
C = 0100 00112 invert kode ASCII 7 bit
110 00012
Persyaratan waktu untuk skema di atas sederhana saja. Sebagai contoh, karakter IRA biasanya dikirim sebagai unit 8-bit, termasuk bit paritas. Bila receiver 5 persen lebih lambat atau lebih cepat daripada transmitter, pemeriksaan 8 bit karakter akan dipindahkan per 45 persen dan masih diperiksanya dengan benar. Untuk gambar di atas pada bagian c menunjukkan dampak kesalahan dalam waktu dari magnitude sehingga menyebabkan munculnya kesalahan pada penerima. Dalam contoh ini kita mengasumsikan rate data sebesar 10.000 bit detik (10 kbps) maka, masing-maing bit besarnya 0,1 millisecond(ms)atau dsampai 100 μs. Anggap saja receiver mempunyai kecepatan sebesar 6 persen atau 6 μs per bit waktu. Jadi sebagaimana contoh diatas receiver akan kedatangan karakter setiap 94 μs(berdasarkan atas detak pada transmitter). Sebagaimana yang bisa dilihat contoh terakhir itu ternyata keliru. Kesalahan seperti ini sebenarnya terjadi karena dua hal. Pertama, bit yang terakhir tidak diterima dengan benar. Kedua, perhitungan bit kemungkinan diluar dari yang ditentukan. Bila bit-7 adalah 1 dan bit-8 adalah 0, bit 8 bisa jadi salah sebagai bvit awal. Kondisi ini disebut sebagai framing error, sebagaimana karakter plus bit awal dan elemen akhir yang kadang-kadang ditunjukkan sebagai frame. Framing error kadang-kadang terjadi bila beberapa keadaan derau menyebabkan munculnya bit awal yang salah sepanjang status idle.
Pada Asyncronous transmisi, hanya dibutuhkan beberapa “Karakter kontrol” (syn) yang mendahului suatu blok data, dan diasumsikan dua buah karakter kontrol syn.Bila suatu data akan ditransmisikan, dengan suatu blok data yang terdiri dari : 250 karakter ASCii (BCC).
Maka Secara Syncronous
250 karakter * 8 bit/karakter = 2000 bit
2 karakter control syn * 8 bit/karakter = 16 bit +
TOTAL ditransmisikan = 2016 bit

Ratio Informasi yang ditransmisikan :
= 2000 bit informasi x 100 %
2016 bit transmisi
= 99, 21 %



Secara Asyncronous
250 karakter * 8 bit/karakter = 2000 bit
250 karakter * 2 bit/karakter = 500 bit +
TOTAL ditransmisikan = 2500 bit

Ratio Informasi yang ditransmisikan :
= 2000 bit informasi x 100 %
2500 bit transmisi
= 80 %
Transmisi asinkron sangat sederhana dan murah namun memerlukan tambahan dua sampai tiga bit per karakter. Sebagai contoh, untuk karakter 8 bit tanpa prioritas, menggunakan elemen akhir sepanjang 1 bit, dua dari setiap sepuluh bit tidak membawa informasi, namun mereka hanya untuk sinkronisasi saja., sehingga tambahannya adalah 20 persen. Tentu saja, tambahan persentasi dapat dikurangi dengan mengirimkan blok bit yang lebih besar diantara bit awal dan elemen akhir. Bagaimanapun juga, seperti yang ditunjukkan pada gambar c di atas, semakin besar blok bit, maka semakin besar tumpukkan kesalahan. Untuk mencapai tingkat efisiensi yang lebih besar, digunakan transmisi synchronous yang merupakan bentuk lain dari sinkronisasi.